Radio Oh Radio…

Kadang saja muncul kejenuhan ketika menonton TV, entah karena tayangan yang monoton, ataupun bosan dengan tayangan televisi yang ada. Mungkin kejenuhan itu muncul karena saat menonton televisi indera mata kita juga bekerja, sehingga saat indera tersebut lelah, maka muncullah kejenuhan atau malas untuk nonton (analisa yang sedikit aneh). Itu biasanya terjadi pada kita, saya juga demikian.

Image

Tapi anehnya (saya pribadi) tidak pernah bosan untuk mendengarkan radio. Sedikit (eh banyak ding..) flashback, sejak kecil saya sudah terbiasa mendengarkan radio. Dulu saat masih TK, kami sekeluarga tiap minggu dengerin sandiwara radio Nini Pelet di Swara Semeru Permai AM, iya AM. Sekarang sih itu radio udah jadi Semeru FM. Saat narator bilang ‘Nini Pelet’ dengan suara menggelegar, seketika itu terdengar suara tawa dari Nini Pelet yang waktu itu terdengar seram, sekarang kalau diingat-ingat jadi mirip orang bengek. Kami begitu serius mengikuti jalan cerita.

Beranjak SD selera agak elit dikit, saya mulai kenal dengan lagu-lagu manca, waktu itu sih jamannya Ace Of Base – Celebration yang lagi gencar-gencarnya diputer di SCTV tiap weekend sore. Saya menemukan radio yang bisa dibilang memenuhi kebutuhan saya dalam mendengarkan musik. Adalah Giga FM Sidoarjo/Surabaya, yang waktu itu menarik perhatian saya dengan acara rikues-rikuesannya.

Beberapa bulan kemudian, karena banyak acara yang bernuansa ibu-ibu saya mulai berpaling dari radio tersebut. Terakhir saya dengar berganti nama menjadi She Radio. Akhirnya saya menemukan radio anak muda banget, gaul banget pokoknya. Dengan frekuensi 100,9 FM radio tersebut bernama Istara FM Surabaya. Menyandang slogan Surabaya’s #1 Hit Music Station, saya jadi merasa mempunyai derajat tinggi dalam hal selera musik karena mendengarkan Istara (perasaan yang aneh). memang radio ini punya andil yang cukup besar dalam pembentukan selera musik saya. Terhitung kurang lebih sejak tahun 1996 saya mendengarkan radio ini.

Image

Lucunya pada saat itu teman-teman lain yang juga hobi mendengarkan radio jadi punya grup sendiri. Jadi konon waktu itu saingan berat Istara adalah EBS FM. Kita saling membela radio favorit masing-masing dan menjelekkan radio saingan. Saat itu memang radio yang lagi happening di kalangan kita-kita (anak muda, ABG, sampe yang labil sekalipun) adalah Istara FM, EBS FM, Wijaya FM. Untuk Wijaya, hanya diperhitungkan saat malam, karena saat siang mereka dangdutan.

Saya merasa semua kebutuhan musik bisa terpenuhi dan terwakili oleh Istara, saya tidak pernah mendengarkan radio lain lebih dari 1 jam, itupun cuma selintas. Frekuensi radio saya hanya berada pada 100,9 FM. Sekitar tahun 2004 ada penataan ulang frekuensi, mereka pindah frekuensi ke 101,1 FM, jadi penyebutannya jadi Istara ten-eleven FM. Di sini saya punya penyiar favorit, diantaranya adalah Iwan, Ade Soediro, Wina Natalia, juga Tony Thamrin, yang akhirnya saya tahu sebelum di Istara pernah siaran di EBS. Sebegitu sukanya sama Tony Thamrin, saat pindah ke DJFM saya sempat curi-curi dengar siaran dia di Freaky Funky Show. Itupun gak lama karena sinyal DJFM di tempat saya timbul tenggelam.

Saat itu sekitar tahun 2006 berdirilah Prambors Surabaya, saya menyambut baik kehadiran radio itu, karena akhirnya saya bisa mendengarkan Putuss yang biasanya saya dengarkan saat berkunjung ke Jakarta saja, tapi juga gak bertahan lama, karena sinyal Prambors sangatlah kecil, jadi sekitar jam 9 pagi biasanya tertimpa radio lokal.

Sekitar tahun 2007 sinyal sinyal radio Surabaya mulai berkurang kekuatannya, mungkin karena pembangunan disana-sini, maupun global warming (iya ya?). Saya mulai sedikit berpisah dengan Istara, radio yang menemani hari-hari saya sejak tahun 1996. Walaupun masih terjangkau, namun sudah tidak sejelas dulu lagi. Sebagai pelarian, saya mendengarkan radio di tempat yang saya tinggali saat itu, adalah radio Makobu (Malang Kota Bunga), dulunya mereka ada di frekuensi 102 FM sebagai anak buah RRI, tapi akhirnya berdiri sendiri dengan frekuensi 89 FM, dan pindah lagi ke 88,7 FM tahun 2004 karena penataan ulang frekuensi.

Eksistensi radio Makobu yang menjaring target pendengar anak muda pelan-pelan mulai tergeser oleh kehadiran Elfara FM yang hadir dengan format lebih gaul. Namun kala itu saya yang masih dibawah ‘bayang-bayang’ standar Istara, lebih memilih Makobu yang standarnya menyamai Istara. Tapi makin ke sini makobu sepertinya sedikit melepaskan target pendengar mudanya.

Awal tahun 2008, saya yang prihatin dengan kondisi pertelevisian Indonesia dengan acara-acara yang makin gak jelas, memutuskan untuk berlangganan Pay TV. Pemilihan Pay TV cukup ketat, karena ada yang menawarkan belasan stasiun radio ibukota yang cukup menarik perhatian, akhirnya terpilihlah Indovision. Melalui Pay TV ini saya bisa mendengarkan Trax FM yang waktu itu menarik telinga saya dengan musik-musiknya yang mengingatkan saya dengan Istara. Juga dengan duo centilnya (Melaney Ricardo-Ichsan Akbar) yang bikin ngakak di pagi hari. Tak ayal Melaney pun saya jadikan penyiar idola baru saya. Namun sayang Melaney hengkang dari dunia radio, dan lebih memilih tampil di TV 😦

Saat itu juga, sempat saya mendengarkan Istara FM kembali, namun alangkah kagetnya, format mereka berubah total tidak seperti dulu lagi. Mulai dari acara, sampai jenis musik yang diputar, yang dulu saya banggakan.

Saat saya berada di ibukota, bertemulah saya dengan saudara tua Trax FM, yaitu Hardrock FM, disini saya menemukan musik yang saya inginkan, format radio dan musik seperti yang saya sukai dulu. Sebenarnya Trax FM dan Hardrock FM ini 11-12 lah, hanya saja segmen mereka yang berbeda, Trax lebih ke anak muda yang gaul, yang eksis dengan kalimat loe-gue-end-nya, sedangkan Hardrock lebih ke dewasa gaul (segmentasi apaan ini?). Akhirnya resmilah Hardrock FM Jakarta menjadi radio wajib saya kurang lebih 2 tahun terakhir ini.

Image

Sebelumnya saat saya hanya berkunjung ke Jakarta, saya lebih memilih Prambors sebagai radio favorit. Namun tampaknya Prambors juga berubah format seperti halnya Istara. Kalau menurut analisa saya sih (gak tau bener apa nggak) hal ini terjadi setelah kehadiran Gen FM di Jakarta, yang lebih banyak menyajikan musik daripada suara penyiarnya, dan memutar lagu Indonesia sebagai prioritas. Bukannya saya gak suka dengan lagu Indonesia, tapi kuping saya lebih cepet nangkep lagu mancanegara. Saya masih suka lagu Indonesia yang berkualitas menurut penilaian saya. Intinya musik itu selera, dan tiap orang seleranya berbeda.

Selain Hardrock FM, saya juga banyak disodorkan pilihan radio yang memikat pendengaran saya. Sebut saja yang baru berdiri, V Radio, yang kembali menghadirkan duo Indy barends-Erwin Parengkuhan di pagi hari. Ada juga Kis FM yang musik-musiknya banyak mengingatkan saya saat masih abege dulu, terlebih saat weekend. Kalau mau bergalau-galau ria juga ada Mustang FM yang seringnya hadir dengan memutar lagu-lagu galau. Sesekali saya juga mendengarkan UFM, yang kini tiap sore menghadirkan suara dari Tony Thamrin. OZ Radio juga, karena disini ada temen SD saya yang siaran, hehehe… Kalau lagi di kampung halaman saya juga bisa denger Hardrock FM Surabaya, walaupun kadang terkendala masalah sinyal. Tapi saat ini dengan hadirnya streaming, masalah sinyal sudah hilang.

Saya percaya kekuatan radio yang bisa membentuk selera musik seseorang. Saya dengan selera musik saya saat ini, adalah hasil bentukan radio. Sedikit contoh, saya awalnya ragu saat mendengar berita Gading Martin akan merilis single, namun akhirnya saya bisa menyukai lagu Gading yang judulnya Merindu saat lagu tersebut hampir muncul tiap jam di Mustang FM, saat ia jadi artis bulan ini kalau gak salah.

Saat saya berada di Jogja, malah saya jarang denger radio lokal Jogja, karena saya gak punya radio, hehehe… Padahal dulu saat hanya berkunjung ke Jogja saya menjadikan Prambors sebagai radio favorit selain Geronimo. Namun sama halnya dengan Prambors Jakarta, radio ini juga berubah total tak seperti dulu lagi, bahkan banyak puter musik saja tanpa penyiar. Yang masih mencuri perhatian saat ini adalah Swaragama FM Jogja, mungkin karena gaya siaran penyiarnya yang khas, yang bikin saya tertarik.

Kalau didengar-dengar sekarang ini banyak radio yang lebih seneng ‘jualan’ lagu daripada ‘jualan’ penyiar. Hal ini sangat disayangkan, karena menurut saya radio tanpa penyiar bukanlah sebuah radio. Apa bedanya dengan sebuah iPod atau pemutar musik lainnya, mungkin yang membedakan disini adalah tidak perlu capek-capek mengatur playlist 🙂

Sekian pengalaman berkecimpung di dunia (mendengarkan) radio saya, dan ini akan tetap berlanjut. Bahkan pengalaman mendengarkan ini berhasil membentuk keinginan saya untuk benar-benar berkecimpung di dunia radio. Sekali di udara, tetap di udara. Maju terus peradioan Indonesia.

Terima kasih buat radio-radio yang mewarnai hari-hari saya:

Lumajang: Semeru 90.7 FM

Surabaya: Istara 101.1 FM, Hardrock 89.7 FM, 94.8 DJFM, 99.6 Giga FM/She Radio, Prambors 89.3 FM

Jogjakarta: Swaragama 101.7 FM, Geronimo 106.1 FM, Prambors 95.8 FM

Malang: Makobu 88.7 FM, Elfara 93 FM

Jakarta: Hardrock 87.6 FM, Trax 101.4 FM, Mustang 88 FM, Kis 95.1 FM, V Radio 106.6 FM, Oz 90.8 FM, 94.7 UFM, Prambors 102.2 FM

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s